Sabtu, 20 November 2010

"AGORA"


Agora adalah istilah yang merujuk pada ruang terbuka dimana orang dapat bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Istilah muncul pertama kali pada era Yunani Kuno, Agora dianggap sebagai cikal bakal ruang publik pertama.

Di Agora terdapat kegiatan perdagangan, diskusi antarwarga tentang berbagai topik menyangkut politik atau ide-ide besar seperti pemikiran Plato dan Aristoteles waktu itu. Sekarang bentuk telah terepesentasi sebagi bentuk awal dari demokrasii, di mana semua orang bebas mengemukakan pendapat.


Ruang publik, adalah sebuah ruang dimana semua orang memiliki hak yang sama untuk mengaksesnya atau mengadakan berbagai kepentingan dan kegiatan publik, tanpa perlu merasa minder karena kondisi ekonomi atau sosialnya, juga tidak perlu meminta izin kepada seseorang atau suatu pihak tertentu untuk dapat mengaksesnya. Ini berarti, tanpa batasan, siapa saja bisa berinteraksi di ruang itu.

Pemaknaan ruang publik sendiri tidak selalu dirujukkan pada kerangka spatial di mana masyarakat dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara langsung. Arena dan ruang sosial, sejauh ia mampu menampung beragam entitas sosial; individu, komunitas, atau perkumpulan, dengan keragaman minat, dapat pula dikategorikan sebagai ruang publik. Ruang publik bisa mewujud secara abstrak seperti media massa dan internet, bisa juga berwujud material seperti tata kota, ruang-ruang diskusi, perpustakaan umum, sarana olahraga dan sebagainya.

Ruang publik ditandai oleh tiga hal, masing-masing responsif, demokratis, dan bermakna. Responsif dalam arti, ruang publik harus dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan luas. Sementara, demokratis berarti ruang publik seharusnya dapat digunakan oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya serta aksesibel bagi berbagai kondisi fisik manusia. Dan terakhir bermakna, yang berarti ruang publik harus memiliki tautan antara manusia, ruang, dunia luas, dan konteks sosial.

Konsepsi modern "ruang publik" (public sphere) kali pertama digagas oleh J├╝rgen Habermas dalam bukunya The Structural Transformation Of The Public Sphere – An Inquiry Into A Category Of Bourgeois Society. Konsep ini merujuk pada "pentas atau arena di mana masyarakat mampu mengemukakan opini, kepentingan dan kebutuhan mereka secara diskursif dan bebas dari tekanan siapapun". Yang terpenting dalam arena tersebut mewujud komunikasi yang memungkinkan para warganya membentuk wacana dan kehendak bersama secara diskursif.

Tidak hanya sejarah Eropa yang mengenal ruang publik, seperti Agora dan La Piazza di zaman Yunani kuno dan abad pertengahan. Zaman kerajaan Jawa pun mengenal apa yang disebut alun-alun, yang selalu menjadi titik nol atau pusat dari sebuah kota.

Sampai kini, masih banyak pusat pemerintahan, pasar, rumah ibadah, dan fasilitas umum seperti sekolah dan kantor pos yang berada di sekitar alun-alun. Berbagai upacara publik, aksi demonstrasi massa, maupun iring-iringan kampanye partai peserta Pemilu hampir selalu melewati alun-alun sebagai bagian dari prosesi. Alun-alun sebagai sebuah ruang publik menjadi penyatuan dari berbagai macam unsur masyarakat.

Berbeda akan halnya Mal, walau juga dapat disebut sebagai ruang publik, yaitu tempat dimana publik bertemu. Namun, sebutan itu masih dalam tanda kutip. Karena ruang publik yang paling ideal adalah ruang yang harus bisa diakses semua orang, tanpa diskriminasi.

Perkembangan Arsitektur Yunani
Perkembangan arsitektur di Yunani dimulai dari sejarah peradaban bangsa – bangsa yang mendiami pulau Kreta, Mikena dan wilayah dataran Yunani, yaitu
· Bangsa Minos (Minoan) 1600 SM
· Bangsa Mikena (Mycenaean) 1100 SM
· Bangsa Yunani (Greece) 800 SM
Ketiga bangsa tersebut memiliki ciri khas antara lain kehidupan yang damai (Minoan); masyarakat yang ahli dalam bangunan, seni, administrasi, perang ( Mikena); politik bebas dan kesamaan pola budaya (Greek).
Pada perkembangannya terdapat 3 kebudayaan yang berpengaruh, yaitu :
1. Kebudayaan Creta (1500 – 1100SM)
Penduduknya berasal dari Asia Kecil yang berimigrasi ke pulau Kreta dan sekitarnya serta membawa budaya asalnya. Namun pada tahun 1400 SM dikuasai bangsa Mikena dan mencapai masa kejayaan pada tahun 1200 SM.
Bangunan rumah tinggal menggunakan atap datar yang merupakan typical daerah timur, sedangkan cahaya dimasukkan melalui celah-celah lubang atap. Ruang menggunakan “Cella”, yaitu ruang yang keempat sisinya tertutup (massif dengan satu sisi sebagai bukaan (pintu).
Pada masa ini orientasi bangunan menghadap dari utara – selatan, dengan fasad bangunan yang simetris dan dinding dalamnya biasanya terdapat lukisan dinding yang disebut FRESKA.
Bahan bangunan pada masa ini adalah :
· Memakai batu pecah atau batu gamping /gips yang dikeraskan untuk lapisan lantai
· Dinding menggunakan bata yang dikeringkan
· Dan atap menggunakan kayu
2. Kebudayaan Cycladic
Arsitekturnya hampir sama dengan dengan kebudayaan bangsa Creta, namun pada istana terdapat rumah – rumah kecil yang disebut Megaron.
Megaron, adalah unit rumah tinggal dengan fasilitas :
· Berbentuk cella yagn dilengkapi dengan lobby/vestibulle.
· Entrance dan serambi depan yang mengarah kedalam.
· Thelamus (ruang tidur) yang diletakkan di bagian paling belakang.
Pada periode geometris (1100 – 700 SM), bangsa Mikena dikalahkan oleh bangsa Dorian yang disiplin , kesukuan dan berjiwa militan. Pada masa ini muncul dasar – dasr perencanaan dalam arsitektur ;yaitu ORDER, PRODUKSI, KESEIMBANGAN , dan KEBIJAKSANAAN.
Pada periode Archaic (700 – 500 SM), masyarakat mengenal bahan Stuco (campuran kapur dan marmer bubuk) juga bentuk bangunan 4 persegi panjang dengan dinding tanpa lubang jendela dan dikelilingi oleh kolom – kolom ( PERISTYLE ). Order Doric dan Ionic diperkenalkan melalui kolom – kolom bangunan. Konsep dari struktur yaitu POST dan LINTEL.
3. Arsitektur Yunani daratan
Ada dua phase peradaban Yunani Daratan, yaitu Hellenic dan Hellenistik.
Phase Hellenic (650 – 323 SM)
  • Karakter masyarakatnya sangat menjunjung tinggi kepercayaan dan seni, sehingga kuil menjadi bagian yang terpenting. Pada mulanya kuil mengambil bentuk dasar dari Megaron selanjutnya dikembangkan.
  • Konstruksi utama memakai system kolom (tiang) dan balok (gelagar).
  • Bentuk-bentuk dari konstruksi kayu ditiru pada bahan yang lain yaitu marmer “Carpentry in marble” mulai tahun 600 BC.
  • Dinding memakai bata yang dikeringkan atau dengan terakota.
  • Penyelesaian eksterior lebih dipentingkan karena masyarakat Yunani berkosentrasi pada elemen yang cocok dengan iklim serta masyarakat pemakainya (masyarakat Yunani senang dengan udara terbuka) terutama Kuil dan Agora.
  • Hubungan dengan dewanya terjadi di udara terbuka dengan angin yang berhembus sepoi melalui “Collonade” yaitu barisan tiang yang menopang atap pada serambi memanjang serta “Portico” yaitu barisan tiang penopang atap pada serambi depan (memendek), sebagai ucapan selamat datang dengan permainan bayangan gelap terang oleh tiang (kolom) gaya Doric yang tertimpa sinar matahari.
  • Disempurnakannya order Dorie, Ionic, Corinthian.
  • Dan bermunculan bangunan – bangunan baru seperti STOA, Theatre, dan Balai Pertemuan
Phase Hellenistik (323 – 30 SM)
  • Pada tahun 480 BC Persia menghancurkan Yunani, Akropolis kota diatas bukit sebagai kompleks bangunan suci juga ikut hancur. Oleh Perikles pemimpin Yunani, Athena dibangun kembali.
  • Pada phase ini banyak dibangun public building (bangunan umum) yang berkembang sangat pesat, bervariasi dan berkesan megah.
  • Banyak dibangun “Stoa” yaitu teras memanjang bertiang banyak yang menghubungkan antara bangunan yang satu dengan yang lainnya serta berfungsi sebagai tempat untuk diskusi yang beratap agar terhindar dari hujan dan terik matahari. Stoa merupakan pasangan dari “Agora” yaitu tempat untuk pertemuan umum di luar juga sekaligus sebagai pasar bagi masyarakat Yunani (terutama di Athena).
Ciri – ciri Arsitektur Yunani yaitu :
· Simplicity ( Kesederhanaan )
NARCICISME yaitu mencinyai kesederhanaan pribadi.
· Clarity ( Kejelasan )
Bentuk struktur yang sederhana terdiri dari tiang dan balok
· Adaptif (dapat diterapkan dimana saja)
· Exterior intention (mengutamakan ruang luar)
Kegiatan lebih banyak diluar gedung.
· Dan terdapatnya order

Tiga order Arsitektur Kuil Yunani
Orang – orang Yunani mengembangkan 3 sistem arsitektur yang masing – masing dengan proporsi mereka sendiri yang khas dan detil, yaitu
· IONIC, gaya ionic yang tipis dan lebih elegan. Pada bagian puncaknya dihiasi dengan desai scroll, gaya ini ditemukan di Yunani Timur.
Kolom ionik biasanya berdiri di atas dasar yang memisahkan batang kolom dari stylobate atau platform. Puncak kolom memiliki karakteristik volutes bergulir berpasangan yang diletakkan di tutup di bentuk (echinus) dari kolom, atau mata air didalamnya.
http://4.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCd0If5p9dI/AAAAAAAAAAw/-f-ClgCSbGk/s320/ionic.gif
· Doric gaya ini terlihat kokoh dengan puncak yang biasa atau tidak berornamen. Gaya ini digunakan di daratan Yunani dan koloni di Itali selatan dan bagian sisilia. Kolom ini berdiri langsung di trotoar datar (stylobate)dari kuil, poros vertikal mereka bergalur pararel dengan alur cekung.




http://3.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCduXNithHI/AAAAAAAAAAg/V0bRYnEu_KU/s320/doric.gif
· korintus, gaya ini terlihat lembut, langsing dan rumit. Pada bagian puncaknyadihiasi dengan daun Acanthus. Dalam hal proporsi, kolom ini mirip dengan kolom ionik yang mungkin dibut lebih ramping, namun berdiri terpisah oleh modal yang khas yang di pahat.

http://3.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCdtnj_PoyI/AAAAAAAAAAY/AotKXSdW67I/s320/corinthians.gif


Peninggalan arsitektur di Yunani, adalah bukit ACROPOLIS, yaitu tempat bekas pertahanan yang berada di tempat yang strategis namun tidak terorganisir (sesuai dengan tapaknya yang berkontur). Di bukit inilah banyak terdapat peninggalan-peninggalan arsitektur, yaitu :
· Propilae, yang merupakan gerbang ke tempat-tempat suci dan juga sekaligus sebagai tempat melakukan pagelaran seni dan pertemuan umum. Order yang ada pada bangunan ini adalah Doric dan Ionic yang terbut dari batu pualam dan jika terkena sinar matahari akan menghasilkan efek warna abu keemasan.
http://1.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCd3KYiu5OI/AAAAAAAAABA/RQ_3CytShBw/s320/GREECE+PROPYLAEA.jpg


http://2.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCd3XWonKaI/AAAAAAAAABI/H0sslvc0ois/s320/Acropolis_Propylae.jpg


· Agora, yang merupakan tempat umum yang dipakai untuk tempat berkumpulnya masyarakat (semacam alun-alun yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan).
http://2.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCd4i08pnpI/AAAAAAAAABQ/U3rFA_Z0cSY/s320/agora.jpeg


http://1.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCd47d2yjlI/AAAAAAAAABY/oVFK3PmpEGs/s320/agora1.jpg
· Stoa, merupakan tempat seperti teras dengan tiang yang berderet yang berfungsi untuk berteduh dari terik matahari dan hujan; juga sebagai pembatas yang menghubungkan dengan Agora.
http://1.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCd7LovZOEI/AAAAAAAAABo/o4vox4-IuaM/s320/Stoa-of-Attalos.jpg
· Theater, merupakan tempat pertunjukan yang bangunannya berbentuk setengah lingkaran yang terbuka dan menempel pada lereng-lereng gunung. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk persembahan tari drama dan nyanyi bagi dewa Dionisious.
http://1.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCd7vO_D2RI/AAAAAAAAABw/Nw2Xty89XI0/s320/teater+1.gif
· Parthenon, merupakan bangunan persegi yang memanjang dengan deretan kolom luar yang bercirikan gaya Doric. Di tempat ini juga terdapat tempat patung dewa yaitu CELLA LONGITUDINAL.
http://4.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCd8DiEw75I/AAAAAAAAAB4/C3f_QRCekKA/s320/parhenon.gif
· Stadium dan Gimnasium, sebagai tempat berolahraga yang merupakan bangunan terbuka.
http://3.bp.blogspot.com/_uTrcAJMKmOw/TCd8ftrXkpI/AAAAAAAAACA/1QrTAhW5Jx4/s320/stadion+dan+gimnasium.jpg


Apa yang terjadi sekarang adalah, masing-masing kelas masyarakat seakan-akan memiliki "ruang publik"-nya sendiri-sendiri. Ketika taman-taman kota diduduki oleh gelandangan, sementara trotoar dipenuhi pedagang kaki lima, kelas sosial yang lain mengisi mal-mal yang sebenarnya merupakan belantara dunia konsumsi. Tanpa ragu, petugas keamanan mal akan mengatur siapa pun yang "tidak menyatu" dengan atmosfer mal. Kesenjangan dalam pemanfaatan ruang publik seperti itu berakibat semakin melebarnya gap-gap sosial yang sudah ada.

Sayangnya, kualitas ruang publik sebuah kota bergantung pada negosiasi kepentingan antara tiga kekuatan: swasta, publik, dan negara. Masalah selalu muncul karena terjadi ketidakseimbangan, terutama ketika ruang publik hanya dipandang sebagai komoditas yang bisa dengan mudah diperjual-belikan oleh negara. Terjadilah kota yang hanya diperuntukkan untuk memfasilitasi kepentingan kapital.

Ruang-ruang publik tersebut yang selama ini menjadi tempat warga melakukan interaksi, baik sosial, politik maupun kebudayaan tanpa dipungut biaya, seperti lapangan olah raga, taman kota, arena wisata, arena kesenian, dan lain sebagainya lama-kelamaan menghilang digantikan oleh mal, pusat-pusat perbelanjaan, ruko-ruko dan ruang-ruang bersifat privat lainnya. Mal atau pusat-pusat perbelanjaan tidak akan pernah dapat benar-benar menjadi ruang publik meski dewasa ini tempat-tempat tersebut sering dijadikan sebagai lokasi bertemu, bertukar informasi, atau sekedar tempat rekreasi melepas kepenatan seusai menghadapi berbagai rutinitas pekerjaan. Karena meskipun terbuka untuk umum, mal tetap menampilkan wajah yang privat di mana di dalamnya orang yang ada di sana cenderung berasal dari kalangan ekonomi tertentu.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah ada ruang publik yang benar-benar otonom dari kepentingan politik atau kapital? Apabila jawabannya ada, mampukah kita menjaga esensinya agar tetap terhindar dari jejaring kapitalisme?



0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates