Jumat, 05 November 2010

Evolusi manusia

Revolusi Dalam Evolusi Darwin
Kasus yang menarik adalah persilang dalam genus panthera yang berlainan jenis yang dilakukan oleh sejumlah kebun binatang di seluruh dunia dengan harapan semakin menarik perhatian dan publikasi yang berujung timbulnya harapan meningkatnya penghasilan.
Dalam dunia kucing, maka kucing terbesar adalah “Liger” hasil silang dari pejantan Panthera leo dengan betina Panthera Tigris. Persilangan sesuatu yang membahayakan bagi tigress saat hamil dan meningkatnya resiko cacat bagi keturunannya sehingga dalam alam bebas adalah sesuatu yang sulit. Yang menarik bahwa hasil persilangan bila tumbuh jadi dewasa haruslah dengan jenis hewan asli yang bukan hasil persilangan sehingga jenis yang baru sulit dipertahankan ke generasi berikutnya.

 
Jenis makhluk hidup yang mampu bertahan dan tidak alami perubahan bentuk antar generasi adalah persilang yang satu jenis, sesuatu yang berbeda jenis yang menghasilkan jenis hibrida sangat sulit beradaptasi terhadap lingkungan. Manusia adalah makhluk yang paling sukses beradaptasi dengan lingkungannya dimanapun ia berada. Bila ia mampu beradaptasi dan mengendalikan lingkungannya, apakah sesuatu yang sesuai dengan fenomena persilangan hibrida? Persilangan diluar 
persilang hibrida maka berarti persilangan sejenis dan persilangan sejenis menghasilkan jenis yang sama.
David Reznick melakukan percobaan dengan ikan guppy di Trinidad menemukan fakta bahwa evolusi terjadi hanyalah dalam beberapa tahun saja serta kemampuan jenis makhluk hidup dipengaruhi faktor genetik seperti pada pipit zabra. ( National Geografi Indonesia bulan Febuari 2009, halam 79 / www.nationalgeographic.com/2009/02/darwin-legacy/ridley-text )
Evolusi sesuatu yang terjadi namun dalam interval waktu tertentu mengalami percepatan yang sangat cepat dan percepatan dalam proses evolusi sesuatu yang luput dari perhitungan Darwin. Percepatan yang sangat revolusioner mengubah dan membuat sesuatu menjadi sukar ditebak. Dalam interval waktu tertentu ada berapakalikah terjadi percepatan dan berapa besar percepatan dalam kecepatan revolusi saat evolusi?
Evolusi sesuatu yang alami terjadi namun manusia, alam raya dapat sewaktu-waktu mendadak alami revolusi, karena alam raya bukan sekedar suatu benda yang bergerak sendirinya, tetapi ada Pencipta yang memiliki kemampuan melakukan apa saja dengan kepunyaan-Nya sesuai keinginan dan rencana-Nya yang sewaktu waktu alami revolusi mendadak yang akan berpuncak di hari kiamat.
Peristiwa air bah pada jaman Nuh adalah salah satu percepatan revolusi dalam evolusi yang tercatat dalam Alkitab. Revolusi hanya mengenal satu kata segera beradaptasi atau mati dan itu tidak perlu waktu yang lama dan tidak mengubah jenis. Air bah adalah sejarah yang ada yang mengubah jalan evolusi kepada loncatan revolusi lalu masuk evolusi kembali.
Perubahan iklim global adalah suatu percepatan evolusi yang masih terkait dalam proses evolusi. Pemanasan global sesuatu yang sedapat mungkin diminimalkan sebab perubahan menbuat yang tidak mampu beradaptasi akan lenyap dan yang beradaptasi bertahan hidup. Kepunahan plasma nuftah dan sejenisnya adalah suatu kerugian bagi manusia.
Makhluk hidup muncul bukan akibat proses evolusi malainkan secara tiba-tiba dalam bentuk yg sempurna. Mereka diciptakan sendiri-sendiri. Oleh krn itu jelaslah bahwa “evolusi manusia” juga merupakan sebuah kisah yg tidak pernah terjadi. Lalu apa yg digunakan evolusionis sebagai pijakan utk dongeng ini? Dasarnya adl keberadaan fosil yg berlimpah sehingga evolusionis dapat membangun penafsiran imajinatif. Sepanjang sejarah telah hidup lbh dari 6.000 spesies kera dan kebanyakan dari mereka telah punah. Kini hanya 120 spesies kera yg masih hidup di bumi. Mayoritas dari sekitar 6.000 spesies kera ini telah punah menjadi sumber yg kaya bagi evolusionis. Evolusionis menulis skenario evolusi manusia dgn menyusun sejumlah tengkorak yg cocok dgn tujuan mereka berurutan dari yg terkecil hingga yg terbesar lalu menempatkan di antara mereka tengkorak beberapa ras manusia yg telah punah. Menurut skenario ini manusia dan kera modern memiliki nenek moyang yg sama. Nenek moyang ini berevolusi sejalan dgn waktu. Sebagian mereka menjadi kera modern sedangkan kelompok lain berevolusi melalui jalur yg berbeda menjadi manusia masa kini. Akan tetapi semua temuan paleontologi anatomi dan biologi menunjukkan bahwa pernyataan evolusi ini fiktif dan tidak sahih seperti semua pernyataan evolusi lainnya. Tidak ada bukti-bukti kuat dan nyata utk menunjukkan kekerabatan antara manusia dan kera. Yang ada hanyalah pemalsuan penyimpangan gambar-gambar serta komentar-komentar menyesatkan. Catatan fosil mengisyaratkan kepada kita bahwa sepanjang sejarah manusia tetap manusia; dan kera tetap kera. Sebagian fosil yg dinyatakan evolusionis sebagai nenek moyang manusia berasal dari ras manusia yg hidup hingga akhir-akhir ini sekitar 10.000 tahun lalu dan kemudian menghilang. Selain itu banyak orang masa kini memiliki penampilan dan karakteristik fisik yg sama dgn ras-ras manusia. Semua ini adl bukti nyata bahwa manusia tidak pernah mengalami proses evolusi sepanjang sejarah.Bukti terpenting adl perbedaan anatomis yg besar antara kera dan manusia dan tidak satu pun di antara perbedaan tersebut muncul melalui proses evolusi. “Bipedalitas” adl salah satu diantaranya. Seperti yg akan diuraikan lbh lanjut bipedalitas hanya terdapat pada manusia dan merupakan salah satu sifat terpenting yg membedakan manusia dgn hewan. Silsilah Imajiner Manusia Darwinis menyatakan bahwa manusia modern saat ini berevolusi dari makhluk kera. Menurut mereka selama proses evolusi yg diperkirakan berawal 4 - 5 juta tahun yg lalu terdapat beberapa “bentuk transisi” antara manusia modern dan nenek moyangnya. Menurut skenario yg penuh rekaan ini terdapat empat “kategori” dasar
Australopithecus
Homo habilis
Homo erectus
Homo sapiens
Evolusionis menyebut nenek moyang pertama manusia dan kera sebagai Australopithecus yg berarti “Kera Afrika Selatan”. Australopithecus hanyalah spesies kera kuno yg telah punah dan memiliki beragam tipe sebagian berperawakan tegap dan sebagian lain bertubuh kecil dan ramping.
Evolusionis menggolongkan tahapan evolusi manusia berikutnya sebagai “homo” yg berarti manusia. Menurut pernyataan evolusionis makhluk hidup dalam kelompok homo lbh berkembang daripada Australopithecus dan tidak terlalu berbeda dgn manusia modern. Manusia modern di zaman kita Homo sapiens dikatakan terbentuk pada tahapan terakhir evolusi spesies ini.Fosil-fosil seperti “Manusia Jawa” “Manusia Peking” dan “Lucy” yg senantiasa muncul di media massa jurnal dan buku-buku kuliah evolusionis termasuk dalam salah satu dari keempat spesies di atas. Spesies-spesies ini juga diasumsikan bercabang menjadi subspesies. Sejumlah kandidat bentuk transisi dari masa lampau seperti Ramapithecus harus dikeluarkan dari silsilah imajiner evolusi manusia setelah diketahui mereka adl kera biasa. Dengan menyusun rantai hubungan sebagai Australopithecus > Homo habilis > Homo erectus > Homo sapiens evolusionis menyatakan bahwa masing-masing spesies ini adl nenek moyang spesies lainnya. Akan tetapi temuan ahli-ahli paleontologi baru-baru ini mengungkapkan bahwa Australopithecus Homo habilis dan Homo erectus hidup di belahan bumi berbeda pada masa yg sama. Selain itu suatu segmen manusia tertentu yg digolongkan sebagai Homo erectus ternyata hidup hingga zaman modern. Homo sapiens neandartalensis dan Homo sapiens sapiens pernah hidup bersama di wilayah yg sama. Situasi ini jelas menunjukkan ketidakabsahan pernyataan bahwa mereka adl nenek moyang bagi yg lain. Pada hakikatnya semua temuan dan penelitian ilmiah telah mengungkapkan bahwa catatan fosil tidak mengisyaratkan proses evolusi seperti yg dikemukakan evolusionis. Fosil-fosil tersebut yg mereka katakan sebagai nenek moyang manusia ternyata milik suatu ras manusia atau milik spesies kera. Lalu yg manakah fosil manusia dan yg manakah fosil kera? Mungkinkah salah satu dari keduanya bisa dianggap sebagai bentuk transisi? Untuk mendapatkan jawabannya mari kita amati masing-masing kategori. Australopithecus Spesies Kera Australopithecus kategori pertama berarti “kera dari selatan”. Makhluk ini di duga pertama kali muncul di Afrika sekitar 4 juta tahun lalu dan hidup hingga 1 juta tahun lalu. Evolusionis berasumsi bahwa spesies Australopithecus tertua adl A. afarensis. Setelah itu muncul A. africanus yg memiliki kerangka lbh ramping dan kemudian A. robustus yg memiliki kerangka relatif lbh besar. Sedangkan utk A. boisei sejumlah peneliti menganggapnya spesies yg berbeda dan sebagian lagi menggolongkannya dalam subspesies dari A. robustus. Semua spesies Australopthecus adl kera yg sudah punah dan menyerupai kera masa kini. Ukuran tengkorak mereka sama atau lbh kecil dari simpanse yg hidup di masa sekarang. Terdapat bagian yg menonjol pada tangan dan kaki mereka yg digunakan utk memanjat pohon seperti simpanse zaman sekarang dan kaki mereka memiliki kemampuan memanjat dahan. Mereka bertubuh pendek dan seperti simpanse masa kini Australopithecus jantan lbh besar dari Australopithecus betina. Sekian banyak karakteristik seperti detail pada tengkorak kedekatan kedua mata gigi geraham yg tajam struktur rahang lengan yg panjang kaki yg pendek merupakan bukti bahwa makhluk hidup ini tidak berbeda dgn kera zaman sekarang. Evolusionis menyatakan bahwa meskipun Australopithecus memiliki anatolmi kera mereka berjalan dgn tegak seperti manusia dan bukan seperti kera. Pernyataan “berjalan tegak” ini ternyata telah dipertahankan selama puluhan tahun oleh sejumlah ahli paleontologi seperti Richard Leakey dan Donald C. Johanson. Namun banyak ilmuwan telah melakukan penelitian pada struktur kerangka Australopithecus dan membuktikan ketidakabsahan argumentasi tersebut. Penelitian menyeluruh pada spesimen Australopithecus oleh dua ahli anatomi kelas dunia dari Inggris dan Amerika Serikat Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard menunjukkan bahwa makhluk ini tidak bipedal dan bergerak seperti kera masa kini. Setelah mempelajari fosil-fosil ini selama 15 tahun dgn segala perlengkapan yg diberikan pemerintah Inggris Lord Zuckerman dan timnya yg beranggotakan 5 orang spesialis sampai pada kesimpulan bahwa Australopithecus hanya spesies kera biasa dan pasti tidak bipedal. Zuckerman sendiri adl seorang evolusinis. Begitu pula Charles E. Oxnard evolusionis yg terkenal dgn penelitiannya pada subjek tersebut menyamakan struktur kerangka Australopithecus dgn milik orang utan modern. Akhirnya pada tahun 1994 sebuah tim dari Universitas Liverpool Inggris melakukan riset menyeluruh utk mencapai suatu kesimpulan yg pasti. Mereka berkesimpulan bahwa “Australopithecus adl kuadripedal”. Singkatnya Australopithecus tidak memiliki kekerabatan dgn manusia dan mereka hanyalah spesies kera yg telah punah. Homo Habilis Kera yg Dinyatakan sebagai Manusia Kemiripan struktur kerangka dan tengkorak Australopithecus dgn simpanse dan penolakan terhadap pernyataan bahwa makhluk ini berjalan tegak telah sangat menyulitkan ahli paleontologi pro evolusi. Karena menurut skema evolusi rekaan mereka Homo erectus muncul setelah Australopihecus. Karena awalan kata “homo” berarti “manusia” Homo erectus tergolong kelas manusia berkerangka tegak. Ukuran tengkoraknya dua kali lbh besar dari Australopithecus. Peralihan langsung dari Australopithecus yakni seekor kera mirip simpanse ke Homo erectus yg berkerangka sama dgn manusia modern adl mustahil bahkan menurut teori mereka sendiri. Jadi diperlukan “mata rantai” yakni “bentuk transisi”. Dan konsep Homo habilis muncul utk memenuhi kebutuhan ini. Pengelompokan Homo habilis diajukan pada tahun 1960-an oleh Keluarga Leakey sebuah keluarga “pemburu fosil”. Menurut Leakey spesies baru yg mereka kelompokkan sebagai Homo habilis memiliki kapasitas tengkorak relatif besar kemampuan berjalan tegak dan menggunakan peralatan dari batu dan kayu. Karena itu mungkin saja ia adl nenek moyang manusia. Fosil-fosil baru dari spesies yg sama ditemukan pada akhir tahun 1980-an dan mengubah total pandangan ini. Sejumlah peneliti seperti Bernard Wood dan C. Loring Brace berdasarkan fosil-fosil baru tersebut mangatakan bahwa Homo habilis yg berarti “manusia yg mampu menggunkan alat” seharusnya digolongkan sebagai Australopithecus habilis yg berarti “kera Afrika Selatan yg mampu menggunakan alat” krn Homo habilis memiliki banyak kesamaan ciri dgn kera australopithecus. Ia memiliki lengan yg panjang kaki yg pendek dan struktur kerangka mirip kera seperti Australopithecus. Jari tangan dan jari kakinya cocok utk memanjat. Struktur tulang rahangnya sangat mirip dgn rahang kera masa sekarang. Rata-rata kapasitas tengkoraknya yg 600 cc juga mengindikasi fakta bahwa Homo habilis adl kera. Singkatnya Homo habilis yg diklaim sebagai spesies berbeda oleh sejumlah evolusionis ternyata merupakan spesies kera seperti semua Australopithecus yg lain. Penelitian yg dilakukan pada tahun-tahun berikutnya benar-benar menunjukkan bahwa Homo habilis tidak berbeda dgn Australopithecus. Fosil tengkorak dan kerangka OH26 yg ditemukan Tim White menunjukkan bahwa spesies ini memiliki kapasitas tengkorak kecil lengan panjang serta kaki pendek yg memungkinkannya memanjat pohon tidak berbeda dgn kera modern. Analisis terperinci yg dilakukan ahli antropologi Amerika Holly Smith pada tahun 1994 menunjukkan bahwa Homo habilis bukan “homo” atau “manusia” melainkan “kera”. Mengenai analisis yg dilakukannya terhadap gigi-gigi Australopithecus Homo habilis Homo erectus dan Homo neandertalensis Smith mengatakan “Dengan membatasi analisis hanya pada spesimen-spesimen yg memenuhi kriteria ini pola perkembangan gigi Australopithecus dan Homo habilis menunjukkan bahwa mereka sekelompok dgn kera Afrika. Sedangkan Homo erectus dan Neandertal diklasifikasikan dgn manusia.” Tahun itu juga tiga spesialis anatoi Fred Spoor Bernard Wood dan Frans Zonneveld menarik kesimpulan serupa melalui metode yg sama sekali berbeda. Metode ini berdasarkan analisis perbandingan saluran setengah lingkaran pada telinga bagian dalam milik manusia dan kera yg berfungsi menjaga keseimbangan. Saluran ini berbeda jauh antara manusia yg berjalan tegak dgn kera yg berjalan membungkuk. Saluran telinga bagian dalam pada semua Australopithecus serta spesimen Homo habilis yg diteliti oleh Spoor Wood dan Zonneveld sama seperti pada kera modern. Saluran telinga bagian dalam pada Homo erectus sama dgn pada manusia modern. Temuan ini membuahkan dua hasil penting
Fosil-fosil yg dikatakan sebagai Homo habilis sebenarnya tidak termasuk kelas “homo” atau manusia tetapi kelas Australopithecus atau kera.
Baik Homo habilis maupun Australopithecus adl makhluk hidup yg berjalan membungkuk dan karenanya memiliki kerangka kera. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun dgn manusia. Homo Rudolfensis Susunan Wajah yg Salah Homo rudolfensis adl nama yg diberikan kepada beberapa bagian fosil yg ditemukan pada tahun 1972. Kelompok yg diwakili fosil ini juga dinamai Homo rudolfensis krn ditemukan di dekat Sungai Rudolf di Kenya. Mayoritas ahli paleoantropologi menyetujui bahwa fosil-fosil ini tidak berasal dari spesies yg berbeda melainkan termasuk Homo habilis. Richard Leakey penemu fosil tersebut memperkenalkan tengkorak yg dinamai “KNM-ER 1470″ dan dinyatakan berusia 28 juta tahun itu sebagai penemuan terbesar dalam sejarah antropologi dan berpengaruh luas. Menurut Leakey makhluk berukuran tengkorak kecil seperti Australopithecus namun berwajah manusia tersebut adl mata rantai yg hilang antara Australopithecus dan manusia. Akan tetapi tidak berapa lama kemudian diketahui bahwa wajah mirip manusia dari tengkorak KNM-ER 1470 yg sering tampil pada sampul depan majalah-majalah ilmiah adl hasil penggabungan fragmen-fragmen tengkorak secara keliru-yang mungkin dilakukan dgn sengaja. Prof. Tim Bromage pengkaji anatomi wajah manusia menjelaskan kenyataan yg diungkapkannya dgn bantuan simulasi komputer ini pada tahun 1992 “Ketika KNM-ER 1470 pertama kali direkonstruksi wajahnya dilekatkan pada tengkorak dalam posisi hampir vertikal sangat menyerupai wajah datar manusia modern. Akan tetapi penelitian baru-baru ini mengenai hubungan-hubungan anatomis menunjukkan bahwa pada masa hidupnya wajah itu seharusnya sangat menonjol memunculkan aspek mirip kera agak mirip dgn wajah Australopithecus.” Mengenai kasus ini seorang ahli paleoantropologi evolusionis J. E. Cronin menyatakan “.. wajahnya yg dikonstruksi kelihatan kokoh naso-alveolar clivus yg agak datar lebar maksimum tengkorak yg rendah gigi taring yg kuat dan geraham yg besar seluruhnya merupakan sifat-sifat yg relatif primitif yg menghubungkan spesimen tersebut dgn kelompok A. africanus. C. Loring Brace dari Universitas Michigan berkesimpulan sama setelah ia menganalisis struktur rahang dan gigi tengkorak 1479. Menurutnya ukuran rahang dan bagian yg ditumbuhi gigi geraham menunjukkan bahwa ER 1470 memiliki wajah dan gigi Australopithecus. Prof. Alan Walker ahli paleoantropologi dari Universitas John Hopkins telah melakukan banyak penelitian pada KNM-ER 1470 seperti halnya Leakey dan bersikeras bahwa makhluk hidup ini seharusnya tidak dikelompokkan sebagai “homo” atau spesies manusia seperti Homo habilis atau Homo rudolfensis tetapi harus dimasukkan ke dalam spesies Australopithecus. Jadi pengelompokkan seperti Homo habilis atau Homo rudolfensis yg dikatakan sebagai bentuk transisi antara Australopithecus dgn Homo erectus sepenuhnya hanyalah rekaan. Sebagaimana dikuatkan oleh banyak peneliti masa kini makhluk-makhluk hidup ini adl anggota Australopithecus. Seluruh ciri anatolis memperlihatkan bahwa mereka adl spesies kera. Setelah makhluk-makhluk ini yg ternyata semuanya spesies kera kemudian muncul fosil-fosil “homo” yg merupakan fosil-fosil manusia. Homo Erectus dan Setelahnya Manusia Menurut skema rekaan evolusionis evolusi internal spesies homo adl sebagai berikut pertama Homo erectus kemudian Homo sapiens purba dan manusia Neandertal lalu Manusia Cro-Magnon dan terakhir manusia modern. Akan tetapi semua klasifikasi ini ternyata hanya ras-ras asli manusia purba. Perbedaan di antara mereka tidak lbh dari perbedaan antara orang inuit dgn negro atau orang Pigmi dgn orang Eropa. Mari kita terlebih dahulu mengakaji Homo erectus yg dikatakan sebagai spesies manusia paling primitif. Kata “erect” berarti “tegak” maka Homo erectus berarti “manusia yg berjalan tegak”. Evolusionis harus memisahkan manusia-manusia ini dari yg sebelumnya dgn menambahkan ciri “tegak” sebab semua fosil Homo erectus bertubuh tegak tidak seperti spesimen Australopithecus atau Homo habilis. Jadi tidak terdapat perbedaan antara kerangka manusia modern dan Homo erectus. Alasan utama evolusionis mendefinisikan Homo erectus sebagai “primitif” adl ukuran tengkoraknya yg lbh kecil dari rata-rata manusia modern dan tonjolan alisnya yg lbh tebal. Namun banyak manusia yg hidup di dunia sekarang memiliki volume tengkorak sama dgn Homo erectus dan ada beberapa ras yg memiliki alis menonjol . Sudah menjadi fakta yg disepakasti bersama bahwa perbedaan ukuran tengkorak tidak selalu menunjukkan perbedaan kecerdasan atau kemampuan. Kecerdasan bergantung pada organisasi internal otak dan bukan pada volumenya. Fosil yg telah menjadikan Homo erectus terkenal di dunia adl fosil Manusia Peking dan Manusia Jawa yg ditemukan di Asia. Akan tetapi akhirnya diketahui bahwa dua fosil ini tidak bisa diandalkan. Manusia Peking terdiri dari beberapa bagian yg terbuat dari plester utk menggantikan bagian asli yg hilang. Sedangkan Manusia Jawa “tersusun” dari fragmen-fragmen tengkorak ditambah dgn tulang panggul yg ditemukan beberapa meter darinya tanpa indikasi bahwa tulang-tulang tersebut berasal dari satu makhluk hidup yg sama. Itu sebabnya fosil Homo erectus yg ditemukan di Afrika menjadi lbh penting. . Spesimen Homo erectus paling terkenal dari Afrika adl fosil Narikotome Homo erectus atau “Anak Lelaki Turkana” yg ditemukan dekat Danau Turkana Kenya. Dipastikan bahwa fosil tersebut milik seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yg mungkin akan mencapai tinggi dewasa 183 meter. Struktur kerangka yg tegak dari fosil tidak berbeda dgn manusia modern. Mengenai ini seorang ahli paleoantropologi Amerika alan Walker meragukan kemampuan ahli patologi kebanyakan utk membedakan kerangka fosil tersebut dgn kerangka manusia modern. Tentang tengkorak tersebut Walker mengatakan “Tengkorak itu tampak sangat mirip dgn Neandertal.” Seperti yg akan kita temukan pada bab berikutnya Neandertal adl ras manusia modern. Jadi Homo erctus adl ras manusia modern juga. Bahkan evolusionis Richard Leakey menyatakan bahwa perbedaan antara Homo erectus dan manusia modern tidak lbh dari variasi ras perbedaan bentuk tengkorak tingkat tonjolan wajah kekokohan dahi dan sebaginya akan terlihat. Perbedaan-perbedaan ini mungkin seperti yg kita saksikan saat ini pada ras-ras manusia modern yg terpisah secara geografis. Variasi biologis semacam ini muncul ketika populasi-populasi saling terpisah secara geografis utk kurun waktu yg lama. Prof. William Laughlin dari Universitas Collection melakukan pengujian anatomi menyeluruh terhadap orang-orang Inuit dan orang-orang yg hidup di kepulauan Aleut. Ia mendapati mereka sangat mirip dgn Homo erectus. Laughlin berkesimpulan bahwa semua ras ini ternyata ras-ras yg bervariasi dari Homo sapiens . Jika kita mempertimbangkan perbedaan besar antara kelompok-kelompok yg berjauhan seperti Eskimo dan Bushman yg diketahui berasal dari satu spesies Homo sapiens dapat disimpulkan bahwa Sinanthropus termasuk dalam spesies yg sama. Di lain pihak terdapat jurang pemisah yg lebar antara Homo erectus suatu ras manusia dan kera yg mendahului Homo erectus dalam skenario “evolusi manusia” . Ini berarti bahwa manusia pertama muncul secara tiba-tiba dalam catatan fosil dan tanpa sejarah evolusi apa pun. Hal ini sudah cukup jelas mengindikasikan bahwa mereka diciptakan. Akan tetapi pengakuan atas fakta ini akan sangat bertentangan dgn filsafat dogmatis dan ideologi evolusionis. Karenanya mereka mencoba menggambarkan Homo erectus ras manusia sesungguhnya sebagai makhluk separo kera. Pada rekostruksi Homo erectus evolusionis berkeras menggambarkan ciri-ciri kera. Sebaliknya dgn metode penggambaran yg sama mereka memanusiakan kera seperti Australopithecus atau Homo habilis. Dengan cara ini mereka berupaya “mendekatkan” kera dan manusia dan menutup celah antara dua kelompok makhluk hidup yg berbeda ini. Neandertal Neandertal adl manusia yg tiba-tiba muncul 100 ribu tahun lalu di Eropa dan kemudian menghilang atau terasimilasi melalui pembauuran dgn ras-ras lain secara diam-diam namun cepat 35 ribu tahun lalu. Perbedaan antara mereka dgn manusia modern hanyalah kerangka tubuh yg lbh kekar dan kapasitas tengkorak mereka sedikit lbh besar. Neandertal adl ras manusia dan kenyataan ini sekarang diakui oleh hampir semua orang. Evolusionis telah berusaha keras menampilkan mereka sebagai “spesies primitif” namun semua temuan menunjukkan bahwa Neandertal tidak berbeda dgn orang berperawakan “kekar” yg lewat di jalan saat ini. Seorang pakar dalam hal ini Erik Trinkaus ahli paleoantropologi dari Universitas New Mexico menulis “Perbandingan anatomis terperinci antara sisa-sisa kerangka Neandertal dgn kerangka manusia modern tidak menunjukkan dgn pasti bahwa kemampuan lokomotif manipulatif intelektual atau bahasa Neandertal lbh rendah dari manusia modern.” Banyak peneliti modern menggolongkan manusia Neandertal sebagai suatu subspesies dari manusia modern dan menamakannya Homo sapiens neandertslensisi. Temuan-temuan membuktikan bahwa Neandertal mengubur mayat kerabat mereka membuat alat musik dan memiliki hubungan kebudayaan dgn Homo sapiens yg hidup seperiode. Tegasnya Neandertal adl ras manusia bertubuh “kekar” yg menghilang seiring perjalanan masa. Homo Sapiens Kuno Homo Heilderbergensis dan Manusia Cro-Magnon Dalam skema evolusi rekaan Homo sapiens kuno adl tahapan terakhir sebelum manusia modern. Pada kenyataannya evolusionis tidak dapat berkata banyak tentang manusia ini krn hanya ada sedikit perbedaan antara mereka dgn manusia modern. Sejumlah peneliti bahkan mengatakan bahwa representasi ras ini masih hidup hingga sekarang dan merujuk kepada orang Aborigin di Australia sebagai contoh. Seperti Homo sapiens orang Aborigin juga memiliki alis tebal yg menonjol struktur rahang miring ke dalam dan kapasitas tengkorak sedikit lbh kecil. Di samping itu sejumlah penemuan penting mengisyaratkan bahwa manusia semacam itu pernah hidup di Hongaria dan di beberapa desa di Italia hingga beberapa waktu lalu. Kelompok yg disebut sebagai Homo heilderbergensis dalam literatur evolusionis ternyata sama dgn Homo sapiens kuno. Dua istilah berbeda ini digunakan unutk mendefinisikan ras manusia yg sama krn perbedaan konsep di kalangan evolusionis. Semua fosil yg termasuk dalam golongan Homo heilderbergensis menunjukkan bahwa kelompok manusia yg secara anatomis sangat mirip dgn orang Eropa modern telah hidup 500 ribu dan bahkan 700 ribu tahun sebelumnya pertama di Inggris dan kemudian Spanyol. Diperkirakan manusia Cro-Magnon hidup 30.000 tahun lalu. Manusia ini memiliki tengkorak berbentuk kubah dan dahi yg lebar. Kapasitas tengkoraknya 1.600 cc di atas rata-rata utk manusia modern. Tengkoraknya memiliki tonjolan alis yg tebal dan tonjolan tulang di bagian belakang yg merupakan ciri manusia Neandertal dan Homo erectus. Kendati Cro-Magnon dianggap suatu ras Eropa struktur dan voleme tengkoraknya tampak lbh mirip tengkorak ras-ras yg hidup di Afrika dan daerah tropis saat ini. Berdasarkan ini Cro-Magnon diperkirakan sebagai suatu ras Afrika kuno. Sejumlah temuan paleoantropologi telah menunjukkan bahwa ras Cro-Magnon dan Neandertal saling membaur kemudian mengawali ras-ras dewasa ini. Sekarang sudah diakui bahwa representasi dari ras Cro-Magnon masih hidup di beberapa wilayah di benua Afrika dan di daerah Salute dan Dordogne di Prancis. Kelompok manusia berkarakteristik sama juga hidup di Polandia dan Hongaria. Hidup Sezaman dgn Nenek Moyang Kajian kita sejauh ini membentuk sebah gambaran jelas skenario “evolusi manusia” hanyalah fiksi. Agar silsilah seperti itu ada evolusi bertahap dari kera hingga menusia seharusnya sudah terjadi dan catatan fosil dari proses ini seharusnya telah ditemukan. Akan tetapi ada jarak pemisah sangat lebar antara kera dan manusia. Struktur kerangka kapasitas tempurung kepala dan kriteria lain seperti berjalan tegak atau sangat membungkuk membedakan manusia dari kera. . Satu lagi temuan penting yg membuktikan bahwa tidak mungkin ada silsilah keluarga di antara spesies yg berbeda-beda ini adl spesies yg ditampilkan sebagai nenek moyang dan penerusnya ternyata hidup bersamaan. Jika anggapan evolusionis benar bahwa Australopithecus berubah menjadi Homo habilis dan kemudian berubah menjadi Homo erectus maka seharusnya mereka hidup pada era yg berurutan. Akan tetapi tidak ada urutan kronologis seperti itu. Menurut perkiraan evolusionis Australopithecus hidup dari 4 juta tahun lalu sedangkan makhluk hidup yg digolongkan Homo habilis diduga hidup hingga 19 - 17 juta tahun lalu. Homo rudolfensis yg dianggap lbh “maju” daripada Homo habilis diketahui berusia sekitar 28 - 25 juta tahun! Dengan kata lain Homo rudolfensis hampir 1 juta tahun lbh tua dari Homo habilis sang “nenek moyang”. Di lain pihak periode Homo erectus adl sekitar 18 - 16 juta tahun lalu. Artinya spesies Homo erectus muncul di bumi pada selang waktu sama dgn Homo habilis yg disebut sebagai nenek moyangnya. Alan Walker memperkuat fakta ini dgn menyatakan “Terdapat bukti dari Afrika Timur tentang sejumlah kecil Australopithecus yang bertahan hidup sezaman dgn H. habilis lalu dgn H. erectus.” Louis Leakey pun telah menemukan fosil-fosil Australopithecus Homo habilis dan Homo erectus yg berdekatan satu sama lain di wilayah celah Olduvai lapisan Bed II. Jadi pastilah tidak ada silsilah kekerabatan seperti itu. Ahli paleontologi dari Universitas Harvard Stephen Jay Gould menjelaskan jalan buntu bagi evolusi ini meskipun ia sendiri seorang evolusionis “Apa jadinya dgn urutan yg kita susun jika ada tiga keturunan hominid hidup bersama dan tidak satu pun dari mereka menjadi keturunan dari yg lain? Di samping itu tidak satu pun dari ketiganya memperlihatkan kecenderungan evolusi semasa mereka hidup di bumi. Jika kita beralih dari Homo erectus ke Homo sapiens kita kembali melihat bahwa tidak ada silsilah utk dibicarakan. Ada bukti yg menunjukkan bahwa Homo erectus dan Homo sapiens kuno hidup hingga 27.000 tahun dan bahkan 10.000 tahun sebelum masa kita. Dalam rawa Kow di Australia tengkirak Homo erectus berusia sekitar 13.000 tahun telah ditemukan. Di pulau Jawa sebuah tengkorak Homo erectus yg ditemukan berumur sekitar 27.000 tahun. Sejarah Rahasia Homo Sapiens Fakta paling menarik dan penting yg menggugurkan landasan utama silsilah imajiner teori evolusi ini adl sejarah manusia modern yg ternyata cukup tua. Data paleoantropologi mengungkapkan bahwa orang-orang Homo sapiens yg persis sama dgn kita telah hidup pada satu juta tahun lalu. Orang yg menemukan bukti pertama dalam hal ini adl Louis Leakey seorang ahli paleoantropologi evolusionis. Pada tahun 1932 di daerah Kanjera sekitar Danau Victoria di Kenya Leakey menemukan beberapa fosil yg berasal dari zaman Pleistosin Tengah. Fosil itu ternyata tidak berbeda dgn manusia modern. Akan tetapi zaman Pleistosin Tengah berarti satu juta tahun lalu. Karena penemuan ini membalikkan silsilah keturunan evolusi sejumlah ahli paleoantropologi evolusionis tidak mau mengakuinya. Namun Leakey selalu bertahan bahwa perkiraannya benar. Ketika kontroversi ini hampir terlupakan sebuah fosil ditemukan di Spanyol pada tahun 1995 dan dgn sangat gamblang menunjukkan bahwa sejarah Homo sapiens ternyata jauh lbh tua dari yg diperkirakan. Fosil tersebut ditemukan di sebuah gua bernama Gran Dolina di wilayah Atapuerca dan Spanyol oleh tiga orang ahli paleoantropologi Spanyol dari Universitas Madrid. Fosil tersebut adl wajah anak laki-laki berusia 11 tahun yg sepenuhnya tampak seperti manusia modern. Padahal fosil tersebut telah berusia 800.000 tahun sejak ia meninggal. Majalah Discover memuat rincian kisah ini pada Desember 1997. Fosil tersebut bahkan menggoyahkan keyakinan Ferreras yg memimpin penggalian Gran Dolina. Ia berujar “Kami mengaharapkan sesuatu yg signifikan sesuatu yg besar sesuatu yg bombastis? sesuatu yg ‘primitif’. Harapan kami terhadap seorang anak berusia 800.000 tahun adl sesuatu seperti Anak Lelaki Turkana. Dan apa yg kami temukan adl wajah yg sama sekali modern.. Bagi saya hal ini sangat spektakuler? sesuatu yg mengguncangkan. Menemukan sesuatu yg sama sekali tidak diharapkan seperti itu.. Bukan tentang masalah menemukan fosil; menemukan fosil bisa juga mengejutkan dan tidak jadi masalah. Namun hal yg paling spektakuler adl menemukan sesuatu yg Anda kira berasal dari zaman sekarang di masa lampau. Sama halnya dgn menemukan sesuatu seperti.. seperti tape recorder di Gran Dolina. Itu akan sangat mengejutkan. Kami tidak mengharapkan ada kaset dan tape recorder pada zaman Pleistosin awal. Menemukan wajah modern begitu pula. Kami sangat terkejut melihatnya.” Fosil tersebut menegaskan fakta bahwa sejarah Homo sapiens harus ditarik ke belakang hingga 800 ribu tahun lalu. Setelah pulih dari keterkejutannya evolusionis yg menemukan fosil tersebut memutuskan bahwa fosil ini berasal dari spesies yg berbeda sebab menurut silsilah keturunan evolusi tidak ada Homo sapiens yg pernah hidup 800 ribu tahun lalu. Jadi mereka mengarang sebuah spesies baru bernama Homo antecessor dan memasukkan tengkorak Atapuerca ke dalam kelompok ini. Sebuah pondok temuan ynag menunjukkan bahwa usia Homo sapiens bahkan lbh awal dari 800 ribu tahun. Satu di antaranya adl penemuan Louis Leakey di awal tahun 1970-an di celah Olduvai. Di tempat ini di lapisan Bed II Leakey menemukan bahwa spesies Australopithecus Homo habilis dan Homo erectus hidup pada masa yg sama. Bahkan yg lbh menarik lagi adl sebuah bangunan yg juga ditemukan Leakey pada lapisan Bed II. Di sini Leakey menemukan sisa-sisa pondok batu. Yang tidak biasa dari peristiwa ini adl bahwa kostruksi ini yg masih digunakan di sejumlah daerah di Afrika hanya dapat dibangun oleh Homo sapiens! Jadi menurut temuan Leakey Australopithecus Homo habilis Homo erectus dan manusia modern tentu hidup pada masa yg sama sekitar 17 juta tahun lalu. Penemuan ini dgn pasti menggugurkan teori evolusi yg menyatakan bahwa manusia modern berevolusi dari spesies mirip kera seperti Australiopithecus. Jejak Kaki Manusia Modern Berusia 36 Juta Tahun! Sejumlah penemuan lain menurut asal-usul manusia modern hingga 17 juta tahun lalu. Salah satu dari temuan penting ini adl jejak-jejak kaki yg ditemukan di Laetoli Tanzania oleh Mary Leakey pada tahun 1977. Jejak-jejak kaki ini ditemukan pada lapesan yg menurut perhitungan berusia 36 juta tahun. Yang lbh penting lagi jejak-jejak kaki ini tidak berbeda dari jejak kaki menusia modern. Jejak-jejak kaki yg ditemukan Mary Leakey kemudian dipelajari sejumlah ahli paleoantropologi seperti Don Johanson dan Tim White. Hasilnya sama. White menulis “Tidak disangsikan lagi? jejak-jejak itu serupa dgn jejak kaki manusia modern. Jika jejak itu ditinggalkan di pasir Pantai California sekarang dan seorang anak berusia empat tahun ditanya tentangnya ia akan langsung menjawab bahwa seseorang telah berjalan di sana. Ia tidak akan dapat membedakannya dgn seratus jejak kaki lain di pantai begitu pula anda.” Setelah meneliti jejak tersebut Louis Robbins dari Universitas North California berkomentar “Lengkungannya agak tinggi-manusia yg lbh kecil memiliki lengkungan lbh tinggi daripada yg saya miliki-dan jempol kakinya besar dan sejajar dgn jari kaki sebelahnya.. Jari-jari kaki menekan tanah seperti jari-jari kaki manusia. Anda tidak akan mendapati ini pada hewan.” Pengujian-pengujian morfologis tetap menunjukkan bahwa jejak-jejak kaki tersebut harus diakui berasal dari manusia lbh jauh lagi manusia modern . Russel Tuttle yg mempelajari ini menulis “Jejak-jejak ini mungkin berasal dari seorang Homo sapiens kecil yg bertelanjang kaki? Dari semua ciri morfologi yg teramati kaki individu yg membuat jejak tersebut tidak berbeda dgn kaki manusia modern.” Penelitian yg jujur tentang jejak-jejak kaki tersbut mengungkapkan pemilik sebenarnya. Pada kenyataan jejak-jejak kaki ini terdiri dari 20 jejak dari seorang manusia modern berusia 10 tahun yg membatu dan 27 jejak kaki dari seorang yg lbh muda. Mereka benar-benar manusia modern seperti kita. Situasi ini menjadikan jejak kaki Laetolo sebagai topik diskusi selama bertahun-tahun. Para pakar paleoantropologi evolusionis berupaya keras memikirkan sebuah penjelasan krn sulit bagi mereka menerima kenyataan bahwa manusia modern telah berjalan di muka bumi 36 juta tahun lalu. Pada tahun 1990-an “penjelasan” ini mulai terbentuk. Evolusionis memutuskan bahwa jejak kaki ini tentunya ditinggalkan oleh Australopithecus sebab menurut teori mereka mustahil spesies homo ada 36 juta tahun lalu. Dalam artikelnya pada tahun 1990 Russell H. Tuttle menulis sebagai berikut “Singkatnya jejak kaki berusia 35 juta tahun di situs G Laetoli menyerupai jejak manusia modern yg biasa bertelanjang kaki. Tidak ada ciri-ciri yg menunjukkan bahwa hominid Laetolo memiliki kemampuan bipedal yg lbh rendah dari kita. Kalau saja jejak pada situs G ini tidak diketahui setua itu kami akan langsung menyimpulkan bahwa jejak tersebut dibuat oleh anggota genus Homo.. Dalam hal ini kita harus mengesampingkan asumsi lemah bahwa jejak laetolo telah dibuat oleh jenis Lucy yaitu Australopithecus aferensis. Dengan kata lain jejak-jejak berumur 36 juta tahun ini tidak mungkin milik Australopithecus. Satu-satunya alasan mengapa jejak-jejak ini dianggap berasal darinya adl krn jejak tersebut berada pada lapisan vulkanik berumur 36 juta tahun. Jejak tersebut dianggap milik Australopithecus dgn asumsi bahwa manusia tidak mungkin telah hidup pada zaman seawal itu. Penafsiran jejak Laetoli menunjukkan kepada kita suatu realita yg sangat penting. Evolusionis mendukung teorinya tidak dgn mempertimbangkan temuan ilmiah tetapi justru mengabaikannya. Di sini kita mendapati sebuah teori yg dibela secara membabi buta dan semua temuan yg bertentangan dgn teori tersebut diabaikan atau diselewengkan demi tujuan mereka. Singkatnya teori evolusi bukan ilmu pengetahuan tetapi dogma yg dijaga agar tetap hidup dgn mengabaikan ilmu pengetahuan. Kebuntuan Bipedalisme bagi Evolusi Terlepas dari catatan fosil yg kita diskusikan lebarnya jarak perbedaan anatomis antara manusia dan kera juga menggugurkan cerita rekaan evolusi manusia. Salah satu perbedaan ini berhubungan dgn cara berjalan. Manusia berjalan tegak dgn kedua kakinya. Suatu cara bergerak yg sangat unik dan tidak didapati pada spesies-spesies lain. Sebagian hewan memang memiliki kemampuan terbatas utk bergerak sembari berdiri dgn kedua kaki belakangnya. Hewan seperti beruang dan monyet terkadang bergerak seperti ini ketika hendak menggapai makanan dan hanya selama beberapa saat. Normalnya kerangka mereka condong ke depan dan mereka berjalan dgn empat kaki. Lalu kemudian apakah bipedalisme merupakan hasil evolusi dari cara berjalan monyet yg kuadripedal seperti yg diklaim evolusionis? Tentu saja tidak. Penelitian telah menunjukkan bahwa evolusi bipedalisme tidak pernah dan tidak mungkin terjadi. Pertama cara berjalan bipedal bukan suatu keuntungan. Cara monyet bergerak lbh mudah lbh cepat dan lbh efisien daripada cara berjalan bipedal manusia. Manusia tidak dapat meloncat dari satu pohon ke pohon lain tanpa menyentuh tanah seperi simpanse atau berlari dgn kecepatan 125 km/jam seperti cheetah. Sebaliknya krn menusia berjalan dgn kedua kakinya ia bergerak jauh lbh lambat di atas tanah. Untuk alasan yg sama manusia adl salah satu spesies yg paling tidak terlindung di alam jika ditinjau dari gerakan dan pertahanan. Menurut logika evolusi monyet seharusnya tidak berevolusi mengambil cara berjalan bipedal. Sebaliknya manusialah yg seharusnya berevolusi menjadi kuadripedal. Kebutuhan lain dari klaim evolusi adl bahwa cara berjalan bipedal tidak sesuai dgn model “perkembangan bertahap” Darwinisme. Model ini yg menjadi dasar evolusi mengharuskan adanya suatu cara berjalan “gabungan” antara cara berjalan bipedal dan kuadripedal. Tetapi penelitian komputer yg dilakukan Robin Crompton seorang ahli paleoantropologi Inggris pada tahun 1966 menunjukkan bahwa “gabungan” ini mustahil terjadi. Crmpton mencapai kesimpulan berikut ini “Makhluk hidup hanya dapat berjalan tegak atau dgn keempat kakinya. Cara berjalan setengah-setengah antara bipedal dan kuadripedal sangat menguras energi. Itu sebabnya tidak mungkin ada makhluk setengah bipedal.” Jarak yg terlalu jauh antara manusia dan kera tidak hanya meliputi bipedalisme. Masih banyak hal lain yg tidak dapat diterangkan seperti kapasitas tengkorak kemampuan berbicara dan sebaginya. Elaine Morgan seorang ahli paleoatropologi evolusionis mengakuinya “Empat mistri yg paling membingungkan tentang manusia adalah
Mengapa mereka berjalan dgn dua kaki?
Mengapa mereka kehilangan seluruh bulu?
Mengapa mereka mengembangkan otak yg besar?
Mengapa mereka belajar berbicara? Jawaban ortodoks utk pertanyaan-pertanyaan ini adalah kita belum tahu; kita belum tahu; kita belum tahu; kita belum tahu. Daftar pertanyaan bisa bertambah panjang tanpa mengubah kemonotonan jawaban. Evolusi Kepercayaan yg Tidak Ilmiah Lord Solly Zuckerman adl salah seorang peneliti terkemuka dan terhormat di Inggris. Bertahun-tahun ia meneliti catatan fosil dan melakukan banyak penyelidikan secara terperinci. Ia dianugerahi gelar kebangsawanan “Lord” utk kontribusinya bagi ilmu pengetahuan. Zuckerman adl seorang evolusionis. Jadi komentarnya mengenai evolusi tidak dapat dianggap sebagai pernyataan utk menentang teori evolusi. Setelah bertahun-tahun meneliti fosil yg digunakan dalam skenario evolusi manusia ia berkesimpulan bahwa silsilah seperti itu tidak ada. Zuckerman juga menyusun sebuah “spektrum ilmu pengetahuan” yg menarik. Ia membentuk spektrum ilmu pengetahuan dari yg dianggapnya ilmiah hingga tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman yg paling “ilmiah” tergantung pada data konkret-adalah bidang kimia dan fisika. Setelah itu biologi kemudian diikuti ilmu-ilmu sosial. Pada ujung berlawanan yg dianggap paling tidak “ilmiah” terdapat “extra sensory perception ” konsep seperti telepati dan indra keenam dan terakhir adl “evolusi manusia”. Zuckerman menjelaskan alasannya “Kita kemudian bergerak dari kebenaran objektif langsung ke bidang-bidang yg dianggap sebagai ilmu biologi seperti extra sensory perception atau interprestasi sejarah fosil manusia. Dalam bidang-bidang ini segala sesuatu mungkin terjadi bagi yg percaya dan orang yg sangat percaya kadang-kadang mampu meyakini sekaligus beberapa hal yg saling kontradiktif. Lalu alasan apa yg membuat banyak ilmuwan berkeras mempertahankan dogma ini? Mengapa mereka berusaha begitu keras mempertahankan teori ini agar tetap hidup walaupun harus mengalami berbagai konflik dan membuang bukti-bukti yg mereka temukan sendiri? Satu-satunya jawaban adl ketakutan mereka akan fakta yg harus mereka hadapi jika teori ini ditinggalkan. Fakta bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Akan tetapi mengingat praduga dan filsafat materialistis mereka penciptaan adl konsep yg tidak dapat diterima evolusionis. Untuk alasan ini mereka menipu diri sendiri serta semua orang di dunia melalui kerja sama dgn media massa. Jika mereka tidak dapat menemukan fosil yg dibutuhkan mereka akan “membuatnya” baik dalam bentuk gambar rekaan atau model-model khayalan dan mencoba memberikan kesan bahwa fosil-fosil yg membuktikan teori evolusi benar-benar ada. Sebagian media massa yg menganut pandangan materialistis juga mencoba menipu masyarakat dan menanamkan kisah evolusi ke alam bawah sadar manusia. Sekeras apa pun mereka mencoba kebenaran tetap jelas manusia muncul bukan melalui proses evolusi tetapi krn telah diciptakan Allah. Karena itu manusia bertanggung jawab kepada-Nya betapa pun ia tidak ingin menerima tanggung jawab ini. 

Sumber : The Evolution Deceit Harun YahyaDiterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Dzikra Telp. 7276475 7232147 E-mail dzikra@syaamil.co.id Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Indonesia
sumber file al_islam.chm

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates